Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

01 April 2013

Namaku. : UANG ( DUIT )

Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, Namun aku mampu merombak tatanan dunia. Aku juga "bisa" merubah Perilaku, Bahkan sifat Manusia, karena manusia mengidolakan aku. Banyak orang merubah kepribadiannya, mengkhianati teman, menjual tubuh, Mengorbankan keluarga bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi aku! Aku tidak mengerti perbedaan orang saleh & bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya/miskin & terhormat/terhina. Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku. Aku juga bukan org ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara-gara aku. Anak dan orangtua berselisih gara-gara aku. Sangat jelas juga aku bukan Tuhan, tapi manusia menyembah aku seperti Tuhan, bahkan kerap kali merek a yang menyebut dirinya hamba-hamba Tuhan,lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah pesan jangan jadi hamba uang.. Seharusnya aku melayani manusia, Tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku? Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku. Perlu aku ingatkan! Aku hanya bisa menjadi alat bayar resep obat anda, tapi tidak mampu memperpanjang hidup anda. Kalau suatu hari anda dipanggil Tuhan, aku tidak akan bisa menemani anda, apalagi menjadi penebus dosa2 anda, anda harus menghadap sendiri kepada Sang Pencipta lalu menerima penghakimanNYA. Saat itu… Tuhan pasti akan hitung-hitungan dengan anda, APAKAH SELAMA HIDUP ANDA MENGGUNAKAN aku dgn baik, atau sebaliknya MENJADIKAN aku sebagai TUHAN? Ini informasi terakhirku: Aku TIDAK ADA DI SURGA, Jadi jangan cari aku disana.

Baca Selengkapnya

10 December 2008

DOSAKAH HOMO????

posting ini diambil dari http://www.wikimu.com/News/DisplayNewsRemaja.aspx?id=5089&post=1

Sejak bersekolah dari SD sampai SMA di sekolah yang sama, sering sekali saya dicekoki nasihat, 'Kalau pacaran itu yang 'sehat', jangan sampai berbuat yang nggak-nggak." Bukannya saya mau protes soal aturan pacaran yang sehat, tapi nasihat yang sering ditambahi kalimat-kalimat lain yang melarang ini jadi berdampak agak negatif, paling tidak menurut pandangan saya.

Kalau di sekolah ada siswa/i yang ke mana-mana berdua dengan temannya yang sesama jenis, misalnya, nantinya akan muncul komentar-komentar, "Ih kalian lesbi ya?" "Kayak homo," dan masih banyak lagi. Padahal bisa saja kan, kalau mereka memang tertarik pada satu hal, misalnya suka baca komik yang sama, dan anak-anak lain ternyata tidak suka? Otomatis mereka jadi 'nempel' karena memang cocok. Tapi kalau dua orang berlainan 'jenis' terlihat akrab, kemana-mana juga berdua, sepertinya hampir tidak ada celetuk, "Eh kalian berdua pacaran ya?" Sepertinya anak-anak jaman sekarang lebih tertarik pada orang-orang homo atau lesbian.



Kalau ada cerita, misalnya di Alkitab, tentang Yudas yang menyerahkan Yesus dengan cara menciumnya, atau Paus yang menenangkan raja juga dengan cara menciumnya, langsung terdengar orang-orang mencap 'homo'. Padahal bukankah ciuman menandakan cinta, dan cinta bisa terjadi antara orang tua dengan anak, antara sahabat, bahkan antara hewan dengan pemiliknya? Sayangnya pengertian ciuman sudah dicampuradukkan dengan ciuman yang bersifat vulgar, hanya mengumbar hawa nafsu seperti dalam film-film Barat. Karena Yesus orang yang penuh kasih, tidak salah bila Dia mencintai saudara-saudara manusiaNya dan ditunjukkan dengan ciuman, bukan? Bahkan sekalipun ciuman maut Yudas pun diterimaNya.

Guru saya pun mengatakan bahwa orang-orang homo dan lesbian adalah orang-orang berdosa. Padahal kalau saya renungkan, terkadang mereka jadi begitu bukan karena kelainan atau dosa, tapi karena terpaksa. Saya pernah membaca sebuah artikel bersambung di tabloid yang menceritakan kehidupan para TKW di HongKong. Banyak di antara mereka yang menikah dengan sesama jenis, padahal suami dan anak-anak menunggu di kampung halaman. Lalu yang jadi pertanyaan, kok bisa?

Rupanya mereka sering merasa kecewa dengan laki-laki. Kalau berkencan dengan laki-laki berkebangsaan asing, setelah itu dipukuli atau dikuras uangnya. Sementara dengan sesama perempuan, mereka saling mengerti, tidak saling menyakiti. Lalu apakah dosa kalau mereka jadi saling jatuh cinta? Kita sendiri apakah mau berpacaran dan (nantinya) menikah dengan orang yang setiap hari memukuli dan 'merampok' hasil kerja keras kita? Kalau memang ada, mungkin memang benar cinta, terpaksa, atau hanya sekedar obsesi saja.

Kemungkinan lainnya, menurut seorang dokter, adalah karena hormon di dalam tubuh. Bisa saja fisiknya seorang perempuan, tapi karena hormon 'laki-laki'nya lebih dominan dibanding hormon 'perempuan'nya, kecenderungannya adalah jatuh cinta pada sesama perempuan, demikian juga dengan sebaliknya. Memang bisa saja sih, orang itu disuntik hormon. Tapi bukankah itu berarti melawan kodratnya, bukan sekadar sebagai Adam dan Hawa, tetapi ciptaan Tuhan yang lain yang memang diciptakan demikian adanya.

Saya lebih tidak setuju dengan kata-kata guru saya, yaitu bahwa 'yang sesama jenis tidak diperbolehkan jadi satu karena kalau perempuan tugasnya melahirkan anak, laki-laki yang membuahi si perempuan. Kalau sesama jenis, maka pasti akan jadi timpang'. Sekarang saya bertanya lagi, memangnya jumlah manusia di bumi ini sudah sedemikian langkanya kah? Kalau badak bercula dua yang dibilang begitu sih oke, tapi manusia? Kalau orang kurang mampu yang punya anak sepuluh dan tidak bisa menghidupi semua anaknya, apakah masih harus mengikuti tugasnya?

Kalau sekadar persoalan sifat, pasti satu dari pasangan tersebut harus mengalah. Bukankah pasangan yang berbeda jenis pun harus rela mengalah? Sering terjadi di antara selebritis kita, karena suami dan istri sama-sama mau kerja, lalu mereka cerai dengan alasan tidak cocok? Kalau begitu, berarti bukan masalah gender, tapi rela berkorban atau tidak, bukankah begitu?

Masalah ini, saya sadari, memang sangat kontroversial, terutama karena menyangkut agama dan Kitabnya. Akan lebih baik apabila masalah 'benar dan tidak' dipisahkan dari pengaruh buruk yang mengkotak-kotakkan suatu perbuatan. Sebuah benda yang terlihat kubus, mungkin dari sisi lain terlihat lancip atau bulat. Kalau kita mencoba melihat orang-orang yang tak kita kenal dari sisinya dan bukannya malah mencap buruk dan dosa, mungkin dunia ini akan jadi penuh cinta, tidak terbatasi peraturan yang tak masuk logika. Semua orang pasti ingin dimengerti, begitu pun mereka yang kita cap berdosa karena 'lesbian' atau 'homo'.

Baca Selengkapnya

20 October 2008

PINDAH GEREJA


Beberapa hari yang lalu ada temenku yang meyatakan ingin pindah gereja. alasannya seperti kebanyakan orang bahwa di gereja A sudah tidak menarik lagi, banyak masalah, ndak cocok dengan pendetaya, sampai alasan yang exstrim yaitu di gereja A tidak ada roh kudus, tidak greget, dan seribu alasan yang lain. Kemudian aku berfikir, mengapa fenomena seperti ini sering dan banyak terjadi?aku mencoba untuk mencari kata yang pas dari berbagai alasan yang biasa muncul. Apa ya??? mungkin yang tepat "tidak puas".

kalo memang itu kata yang tepat, menurutku begini:

Ke gereja, ibadah, PA, dsb..... itukan hanya bagian dari spiritualitas manusia. manusia, mereka, yang selalu pindah gereja, tidak akan pernah bisa nyaman jika ke gereja hanya untuk mencari "kepuasan". Inilah yang selalu ada dibenakku. kemudian aku coba untuk browsing untuk mencari definisi spiritualitas. akhirnya aku menemukan sesuatu yang bagus buat kita renungkan berkaitan dengan hidup beriman, ibadah, kegerja dan sebagainya. yang jelas buat SPIRITUALITAS.

Ketika kita ”sadar” siapa diri kita sebenarnya, di mana tempat kita berada di alam semesta dan ke manakah tujuan hidup kita, berarti kita telah memasuki wilayah spiritualitas.

Pada suatu sore menjelang malam, ada tiga orang tua yang sedang berdiri di depan pintu sebuah rumah. Ketiganya kelihatan seperti sedang dalam perjalanan jauh. Namun meskipun demikian tidak tampak tanda kelelahan atau kegetiran dari raut muka mereka. Beberapa saat kemudian keluarlah seorang wanita dari dalam rumah tersebut. Melihat ketiga orang tua tersebut, wanita ini menjadi iba dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke rumah dan makan malam bersama dengan keluarga di rumah tersebut.
Salah satu dari ketiga orang tua tersebut menjawab,”Perkenalkan nama saya adalah WEALTH (yang berarti kekayaan), dia bernama SUCCESS (yang berarti kesuksesan), dan teman saya yang satu lagi bernama LOVE (yang artinya kasih). Kami tidak dapat masuk bersama-sama ke dalam rumah. Anda harus memilih siapa di antara kami yang Anda undang untuk masuk ke dalam?”
Kemudian si wanita masuk kembali ke dalam rumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada suaminya. ”Sudah jelas bagi kita untuk mengundang WEALTH ke dalam rumah. Karena dengan kekayaan kita dapat memiliki segalanya di dunia ini,” kata sang suami. Tetapi sang istri lebih memilih SUCCESS untuk dapat menikmati kehidupan di dunia ini. Tiba-tiba anak mereka yang berumur sebelas tahun menimpali, ”Mengapa kita tidak memilih LOVE, sehingga kita bisa saling mengasihi dan menciptakan kedamaian dalam kehidupan kita.”
Akhirnya mereka sepakat untuk mengundang LOVE. Ketika sang isteri menyampaikan hal tersebut kepada ketiga orang tua tadi, maka masuklah LOVE ke dalam rumah. Tetapi kemudian kedua orang tua yang lain juga mengikutinya masuk ke dalam rumah. Bertanyalah wanita itu,”Kami hanya mengundang LOVE, mengapa kalian berdua juga mau masuk ke dalam rumah kami? Bukankah kalian berkata bahwa kalian tidak dapat masuk bersama-sama ke dalam rumah?” Salah satu dari orang tua itu menjawab,”Jika kalian mengundang saya, WEALTH atau teman saya, SUCCESS, dua orang dari kami akan tetap tinggal di luar. Tetapi karena Anda mengundang LOVE, maka kami berdua harus ikut ke dalam. Kemana pun LOVE pergi kami akan mengikutinya. Whereever there is love, there is also wealth and success.”
Kisah ini menunjukkan bahwa seorang anak kecil dapat memperlihatkan kecerdasan spiritual yang tinggi. Jelas bagi kita bahwa sang anak lebih cerdas secara spiritual, karena mengetahui manakah yang lebih penting antara kekayaan, kesuksesan dengan cinta kasih.
(kutipan dari www.sinarharapan.co.id) 

Aku ingin mengatakan bahwa ibadah,PA, itu penting. tetapi menurutku yang lebih penting adalah Spiritualitas. menyadari keberadaan kita ditengah alam yang luas dan beragam. saling menghargai perbedaan, hidup damai dan menebar cinta seperti pilihan anak kecil di atas. Karena khusuknya kita berdoa, ibadah, PA, jika kita tidak memiliki kepekaan sosial, terus menebarkan kebencian (termasuk ketika menjalankan ibadah), bersikap sombong dan congkak seolah-olah benar sendiri, seolah-olah cara ibadahnya yang paling bener, aku pikir itu sia-sia saja. percuma......  dan yang jelas, kita yang dewasa, orang tua BELUM TENTU mempunyai kecerdasan spiritualitas yang lebih tinggi dibandingkan anak kecil. Orag yang rajin berdoa, kuat dalam ibadah, baca kitab suci tiap jam, BELUM TENTU mempunyai kecerdasan spiritualitas yang lebih tinggi dibandingkan orang yang biasa-biasa saja.

Baca Selengkapnya

09 October 2008

IMAN atau KEBENCIAN


UNTUK DIREFLEKSIKAN ......! ! !

Beberapa bula yang lalu, ada seorang teman yang membawakan CD (tanpa gambar) tetang KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) sebuah gereja di Jawa Timur. dalam KKR itu menghadirkan seorang "pentolan" FPI Surabaya yang "menerima Yesus" alias masuk Kristen. saya pribadi sebetulnya tidak simpatik lagi dengan hal-hal seperti itu. karena menurut saya itu bukan kebangunan Iman tapi menebar KEBENCIAN. tapi saya tetap ingin mendengarkan isi ceramahnya "orang suci" ini. dan benar saja bahwa isinya tidak masuk akal, sangat egois, meceritakan keindahan "rumah barunya" dengan terus menerus mejelek-jelekkan "rumah yang lama".  

Temen-temen sekalian, saya lalu berfikir, BERGUNAKAH itu semua? Apakah yang dimaksud dengan IMAN jika untuk membangun dan meng-upgrade-nya saja harus dengan cara seperti "mengajak perang"  bisa ndak kita membayangkan bahwa telah bertahun-tahun gereja membangun hubungan baik, dialog, dan terus meningkatka nilai pluralitas bagi jemaatnya, dan hanya dalam waktu 2 atau 3 jam KKR saja itu bisa musnah, hancur berkeping-keping. Dan anehnya hal seperti ini mulai banyak dilakukan di lingkup GKSBS. 

Sekedar mengingatkan dalam tulisan saya beberapa waktu lalu, Dalam kehidupan kehidupan yang pluralis ini masih relevankah kita untuk memandang "jadikalah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus..." itu sebagai AMANAT AGUNG yang harus dijaga sebagai sebuah misi? bukankah akan lebih indah bagi sesama dan dunia ini jika kita MENGASIHI SESAMA SEPERTI DIRIMU SENDIRI, MENGAMPUNI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI, dan masih banyak lagi ayat alkitab yang sangat indah untuk dijadikan AMANAT AGUNG??   

Hidup berdampingan dengan damai seharusnya menjadi misi setiap orang dengan cara saling menghargai perbedaan, menghilangkan mayoritas dan minoritas. karena dimana ada mayoritas disitu pasti akan ada pemaksaan kehendak (dikutip dari Sri Sultan Hamengkubuwono X pada seminar Lintas Agama di Metro) 

Hidup Pemuda GKSBS, Jadilah Agen Perdamaian...

Salam Damai.

Baca Selengkapnya

28 January 2008

"Amanat Agung"


Fundamentalisme sebetulya dapat terjadi pada agama apapun. itu tergantung konsep yang ada di kepala kita. Pemahaman yang sempit terhadap kitab suci biasanya semakin menguatkan "paham" ini. Bagi sebagian orang kristen, ayat di bagian akhir kitab Matius biasanya dijadikan "ayat favorit". Pemahaman bahwa " kita adalah satu-satunya agama yang benar" harus diteruskan dengan pemahaman "... pergilah dan baptislah mereka dalam nama ... " maka akan menimbulkan apa yang dinamakan "fundamentalisme", jika tidak mau disebut "kepicikan". Dan gawatnya itu dijadikan sebuah "amanat agung" orang beragama kristen.

Bagi saya, amanat agung itu akan lebih indah dan damai jika menggunakan " ... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Bunda Theresa mengatakan demikian :
"Tangan pengasih yang sama yang telah menciptakan engkau, telah menciptakan aku pula. Kalau Ia adalah Bapamu, Ia mestinya Bapaku juga. Kita semua berasal dari dari keluarga yang sama. Hindu, Katolik, Budha, Muslim dan semua orang adalah saudara-saudara kita. Mereka juga anak-anak Allah. Iman itu pemberian istimewa dari Tuhan, tetapi Tuhan tidak memaksakannya. Kaum Kristen, Katolik, Muslim, Hindu, Budha, semua orang beragama maupun tidak, mendapat kesempatan bekerja sama dengan kita untuk melakukan PERBUATAN KASIH..." (kutipan dari Mutiara Cinta Muder Teresa. Hal 33)
(cuplikan ini diambil dari bahan PA P3H tahun 2004)

Dan satu lagi, kita sering sekali "berkonsep-konsep" ria tanpa dapat mengimbanginya dalam tahap implementasi. kita belum bisa sadar sepenuhnya bahwa Ibadah itu bukan hanya rajin ke gereja, PA, perjamuan kudus, katekisasi, "membawa jiwa baru" dan sebagainya. Tetapi bahwa kehidupan kita seara utuh, menyeluruh adalah Ibadah yang sesungguhnya.


Baca Selengkapnya

09 August 2007

Apa Refleksi Anda?









Kami akan sangat senang jika kita bisa bertukar pikiran dan saling merefleksikan gambar-gambar di atas.... tuliskan dalam komentar, jangan lupa menuliskan nama. Terimakasih.

Baca Selengkapnya