21 February 2008

Damai dalam Setiap Langkah



Di Bali ada cerita tentang seorang anak yang pintar, cerdas, dan
ganteng bernama Nyoman. Ia disayangi orang. Bosan dengan semua ini,
ia pergi ke hutan menemui penyihir. Dan Nyoman diberi seruling waktu
yang hanya bisa diputar ke depan. Mulailah ia bereksperimen.

Pertama-tama seruling itu diputar ke masa remaja. Bosan, lalu
diputar ke masa tua. Ia melihat seorang ayah dengan istrinya yang
menua. Ini lebih membosankan. Ia putar ke masa lebih tua lagi. Di
sini baru timbul penyesalan. Ada banyak momen kekinian yang lupa
dinikmati. Masa kanak-kanak yang penuh tawa, masa remaja yang penuh
persahabatan, masa kuliah yang penuh perdebatan. Nyoman pergi ke
hutan, menangis, dan minta penyihir untuk mengembalikan hidupnya.

Kalau boleh jujur, setengah lebih manusia berperilaku seperti
Nyoman, buru-buru ke masa depan. Sesampai di sana, baru menyesal ada
banyak masa kini yang sudah jadi masa lalu dan lupa dinikmati.
Manusia cerdas dan keras sekali menyiapkan diri menyongsong masa
depan, tetapi sering gagal menikmati dan mensyukurinya. Dalam bahasa
kawan yang suka mengeluh, dulu tidak bisa makan enak karena tidak
punya uang. Kini tidak bisa makan enak karena keburu stroke.

Bangsa ini serupa. Pengap dengan Orde Lama, lalu ditumbangkan.
Datang Orde Baru yang nikmatnya sebentar dan harus ditumbangkan
diganti Orde Reformasi. Ada tanda-tanda kuat, ini pun sudah membawa
kebosanan banyak orang.

Peradaban manusia setali tiga uang. Bergerak dari satu kebosanan ke
kebosanan lain: perang dunia pertama, perang dunia kedua, perang
dingin antara dua negeri adikuasa, hantaman bom teroris.

Hari ini sebagai hadiah

Mungkin karena lelah dengan kehidupan yang terus berkejaran ke masa
depan, banyak guru meditasi mengajari muridnya berpelukan dengan
masa kini. Tanpa perlu menunggu dengan syarat berat dan sulit,
dengan badan sekarang, umur sekarang, kekayaan materi sekarang
belajarlah memeluk semuanya dengan senyuman dan persahabatan.

Sebagaimana telah dibuktikan, lebih mudah menemukan kesehatan dan
kebahagiaan dengan senyuman dan persahabatan dibanding dengan
kemarahan dan kebencian. Maka, tidak sedikit penulis (contoh Spencer
Johnson dalam buku The Present) menyimpulkan bahwa hari ini sama
dengan the present (hadiah).

Suami, istri, anak-anak, orang tua, rumah, pekerjaan, kesehatan
sekarang memang tidak sempurna, tetapi semuanya perlu disyukuri.
Sebagai rumah banyak manusia, Indonesia juga tidak sempurna, tetapi
menyisakan banyak hal yang layak disyukuri. Dari matahari terbit dan
terbenam, membawa keindahan; dengan pendapatan sedang, bisa menggaji
pembantu lebih dari seorang, godaan bencana sering membukakan bukti
bahwa manusia Indonesia masih peduli dan punya hati.

Ada sahabat yang berfantasi seperti ini. Andaikan kita tersesat di
luar angkasa, mimpi terindah yang ingin segera terwujud adalah
melangkahkan kaki di planet bumi ini. Politik Pakistan boleh
bergelora, Timur Tengah boleh bergolak, tetapi di bumi ini masih
tersedia berlimpah hal yang layak disyukuri.

Pernapasan adalah keindahan

Pertanyaannya, mengapa susah menikmati masa kini? Ibarat rumah,
tubuh manusia berisi banyak jendela terbuka. Mata, telinga, mulut,
hidung, pikiran, keinginan, perasaan tiap hari terbuka tanpa dijaga
dan membiarkannya menonton acara-acara menakutkan di televisi,
mendengarkan dialog penuh kekerasan di radio. Jadilah kehidupan
seperti rumah berantakan.

Dengan pemahaman mendalam, banyak orang menjaga jendela kehidupannya
dengan penjaga yang bernama kesadaran dan kewaspadaan. Mengaktifkan
penjaga ini amat sederhana, murah meriah. Hanya dengan memerhatikan
napas. Bagi siapa pun, yang perjalanan meditasinya sudah jauh, akan
tahu saat manusia rajin memerhatikan napas, tidak saja penjaga
bernama kesadaran dan kewaspadaan mulai bekerja, tetapi juga
menemukan ada yang indah dalam bernapas penuh kesadaran: berpelukan
dengan masa kini yang abadi.

Masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang, keduanya tidak
dalam genggaman. Satu-satunya waktu kehidupan yang menyediakan diri
untuk bisa dipeluk adalah masa kini. Untuk memeluknya, ia
sesederhana tersenyum, lihat, nikmati, syukuri udara masuk dan
keluar melalui lubang hidung.

Akan lebih mudah melakukannya jika seseorang sudah bisa
semengagumkan Jalalludin Rumi: all are sent as guides from the
beyond. Semua yang terjadi membawa bimbingan-bimbingan dan tuntunan-
tuntunan.

Sukses indah, gagal juga indah. Bukankah kegagalan memberi tahu
batas-batas kemampuan diri? Disebut suci baik, disebut munafik juga
baik. Bukankah sebutan munafik membuat kita jadi rendah hati?
Semuanya menyediakan tuntunan-tuntunan.

Bila begini cara memandangnya, menyatu dengan masa kini yang abadi
bisa dilakukan dengan lebih mudah sekaligus indah. Ketenangan
membuat semuanya lebih menawan.

Ini tidak hanya bisa dilakukan di ruang meditasi. Dari membuka mata
di pagi hari, menyatu dengan air dari wastafel, tersenyum pada
kemacetan, memimpin rapat, pulang memeluk pipi orang rumah. Inilah
yang disebut damai dalam setiap langkah.

Dalam bahasa Dalai Lama, transformasi kedamaian dunia melalui
kedamaian diri memang sulit, tetapi itu satu-satunya cara. Maka,
perlu melengkapi keindahan pernapasan dengan kesadaran dalam setiap
kontak. Saat mata mengalami kontak (misalnya melihat orang
menjengkelkan) , ia menimbulkan perasaan tertentu. Latihannya,
perasaan ini bersahabat dengan kewaspadaan atau bersahabat dengan
kebodohan.

Diterangi kesadaran dan kewaspadaan, tiap langkah menjadi langkah
kedamaian sekaligus langkah kesucian. Thich Nhat Hanh tak memiliki
saingan dalam hal ini. Dalam sejumlah karyanya (dari Present moment
wonderful moment sampai Peace is every step), ia senantiasa
menggarisbawahi pentingnya kedamaian saat ini. Di mana pun penulis
akan terdiam sebentar, menarik napas, terhubung dengan kekinian
setiap mendengar bunyi bel. Di ruang meditasinya di desa Plum
Perancis, ia menulis "bernapaslah, engkau masih hidup!"

Sumber: Damai dalam Setiap Langkah oleh Gede Prama, Bekerja di
Jakarta, Tinggal di Perbukitan Desa Tajun, Bali Utara

Baca Selengkapnya

28 January 2008

"Amanat Agung"


Fundamentalisme sebetulya dapat terjadi pada agama apapun. itu tergantung konsep yang ada di kepala kita. Pemahaman yang sempit terhadap kitab suci biasanya semakin menguatkan "paham" ini. Bagi sebagian orang kristen, ayat di bagian akhir kitab Matius biasanya dijadikan "ayat favorit". Pemahaman bahwa " kita adalah satu-satunya agama yang benar" harus diteruskan dengan pemahaman "... pergilah dan baptislah mereka dalam nama ... " maka akan menimbulkan apa yang dinamakan "fundamentalisme", jika tidak mau disebut "kepicikan". Dan gawatnya itu dijadikan sebuah "amanat agung" orang beragama kristen.

Bagi saya, amanat agung itu akan lebih indah dan damai jika menggunakan " ... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Bunda Theresa mengatakan demikian :
"Tangan pengasih yang sama yang telah menciptakan engkau, telah menciptakan aku pula. Kalau Ia adalah Bapamu, Ia mestinya Bapaku juga. Kita semua berasal dari dari keluarga yang sama. Hindu, Katolik, Budha, Muslim dan semua orang adalah saudara-saudara kita. Mereka juga anak-anak Allah. Iman itu pemberian istimewa dari Tuhan, tetapi Tuhan tidak memaksakannya. Kaum Kristen, Katolik, Muslim, Hindu, Budha, semua orang beragama maupun tidak, mendapat kesempatan bekerja sama dengan kita untuk melakukan PERBUATAN KASIH..." (kutipan dari Mutiara Cinta Muder Teresa. Hal 33)
(cuplikan ini diambil dari bahan PA P3H tahun 2004)

Dan satu lagi, kita sering sekali "berkonsep-konsep" ria tanpa dapat mengimbanginya dalam tahap implementasi. kita belum bisa sadar sepenuhnya bahwa Ibadah itu bukan hanya rajin ke gereja, PA, perjamuan kudus, katekisasi, "membawa jiwa baru" dan sebagainya. Tetapi bahwa kehidupan kita seara utuh, menyeluruh adalah Ibadah yang sesungguhnya.


Baca Selengkapnya

11 January 2008



Cerita ini adalah "kisah nyata" yang pernah terjadi di Amerika.

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya
tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman.

Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.
Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari- jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal.Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, "Papa, aku minta maaf tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya, "tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?"
Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungkan cerita di atas!
Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai.

Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki.

Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya.

Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya waktu tidak dapat kembali....

hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di
backward dan Forward..... ..
HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja....


jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak....... ..

yang menjadi sebuah inti hidup adalah "HATI"

hati yang dihiasi belas kasih dan cinta kasih.....
CINTA KASIH merupakan nafas kehidupan kita yang
sesungguhnya. ........

Baca Selengkapnya

23 September 2007

"Pdt. Surahmadhadi dan Anak-anak"




".... biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu".


Sepertinya Tuhan Yesus pernah mengatakan kalimat itu. Dan kalimat itulah sepertinya yang sedang dilakukan oleh pendeta Surahmad Hadi di dusun rukun III, Suka Makmur, Kec. Putri Hijau, Bengkulu Utara, bersama anak-anak yang dengan sukacita bermain, bermanja, bergembira. Sekalipun mereka tinggal di tenda-tenda seperti yang nampak di belakang itu, mereka dengan ramah menyambut kehadiran Pak Rahmad dengan sukacita dan senyum manis.



Sebagai tim assesment paling awal yang ditugasi MPS untuk masuk pada daerah-daerah terparah akibat Gempa Bengkulu 12 September lalu, pak Rahmat, yang belum sempat membawa ganti baju karena sedang lewat saja dikantor sinode, menetapkan hati untuk berangkat dan memilih dusun rukun tiga sebagai base-camp untuk mendampingi masyarakat disitu melakukan recovery.



Tanpa bekal yang memadahi, dia hanya menyediakan hati yang penuh dengan empati dan solidaritas pada yang sedang menderita, pak rahmad bersama calon pendeta Tulus Silitonga sehari-harinya mengusahakan agar di tengah-tengah masyarakat korban bencana terdapat komunitas-komunitas yang mengusahakan kehidupan yang manusiawi.



Hanya dengan kebersamaan seluruh komunitas, dengan kesediaan berbagi, dengan tekad bahwa bencana perlu dihadapi dan tidak sekedar diratapi sembari merendahkan harga diri, komunitas (kelompok masyarakat) semakin diyakinkan bahwa Tuhan ada di antara mereka, menderita bersama mereka, dan berusaha bersama dengan mereka memaknai kehidupan. (Tatok)

Baca Selengkapnya

Bencana Setelah Gempa


Bencana 7,9 sr yang terjadi di Bengkulu memang telah meluluhlantakkan ribuan rumah dan banyak bangunan. Suasana pilu terjadi dimana-mana. Kondisi menyedihkan itu telah juga mengundang simpati masyarakat luas. Bukan hanya masyarakat Indonesia, melainkan juga masyarakat internasional.

Tetapi karena ketidakjelasan informasi mengenai mekanisme distribusi bantuan, pada hari ke 3 di beberapa tempat distribusi bantuan terjadi keributan, dan bahkan penjarahan.

Peristiwa keributan dan penjarahan itu memberi kesan sekilas seolah-olah masyarakat Indonesia brutal dan kalap. Padahal jika dicermati dengan hati jernih, yang menjadi sumber keributan dan penjarahan itu adalah karena korban tidak mendapatkan kepastian apakah mereka akan menerima bantuan atau tidak. Dan jika mereka akan mendapatkan, bantuan itu akan disalurkan dengan cara apa dan jumlah seberapa. Berbagai ketidakpastian inilah yang sebenarnya menjadi pemicu perilaku kalap dari korban bencana di berbagai tempat.

Untuk menghindari kasus-kasus seperti kerusuhan dan penjarahan sebagaimana yang terjadi dimana-mana setelah bencana terjadi, pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap korban bencana harus segera merumuskan kebijakan pengelolaan bantuan dan sesegera mungkin menginformasikan kepada masyarakat korban bencana. Informasi dan kepastian ini amat sangat penting. Pengalaman menunjukkan bahwa kepastian informasi ini melebihi wujud dari bantuan itu sendiri. Sebab dalam hal lapar dan susah, kebanyakan rakyat Indonesia sudah biasa lapar dan susah sekalipun tidak terjadi bencana. Sebab bagi rakyat Indoensia, setiap hari adalah bencana. Maka tidak perlu pemerintah menambahkan bencana setelah setiap terjadi bencana. (gie)

Baca Selengkapnya

13 September 2007

POSKO TANGGAP DARURAT

Sinode GKSBS membuka POSKO TANGGAP DARURAT Gempa Bengkulu
kami melakukan koordinasi dengan pendeta Dwi Djanarto di GKSBS Bengkulu, ytbi, crwrc, YEU, dsb. Kami juga membuka rekening untuk menyalurkan bantuan di BRI Bandarjaya an. VIERDA BUDI SETIYONO rek. 0357.01.014538.50.1 dan BRI Kanca Metro an. MARJONO rek. 0130.01.021906.50.9 , BCA KCP Metro an. DWI SETYA HARYANTO rek. 1170387704

Baca Selengkapnya

01 September 2007

REFLEKSI : PATUNG YESUS DI EROPA


Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung
Yesus Kristus yang
disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia
pada umumnya. Karena
segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka
orang berbondong-bondong
datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan
menyembah,hampir
dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti
pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat
Yesus yang setiap
hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi
begitu banyak permintaan
orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap
bisa ikut memikul
beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang
penjaga pintu pun
berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.


Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang
mengatakan, "Baiklah! Aku
akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu,
dan kamu yang naik di
atas salib itu, namun apapun yang kau dengar,
janganlah mengucapkan sepatah
kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu
sangat mudah.


Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas,
menjulurkan sepasang
lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib.
Karena itu
orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga
sedikit pun. Si
penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian
sebelumnya, yaitu diam saja
tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati
orang-orang yang datang.


Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka
pun ada yang rasional
dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali
permintaan yang aneh-aneh.
Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan
untuk tidak bicara,
karena harus menepati janji sebelumnya.


Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya,
setelah saudagar itu
selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal.
Ia melihatnya dan
ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun
terpaksa menahan diri
untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang
miskin yang sudah 3
hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat
menolongnya melewati
kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan
kantung uang yang
ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka,
ternyata isinya uang
dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan
bukan main, "Yesus
benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!"
dengan amat bersyukur ia
lalu pergi.


Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali
memberitahunya, bahwa itu bukan
miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia
tetap menahan diri
untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang
pemuda yang akan
berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar
Yesus memberkati
keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja,
saudagar kaya itu
menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si
pemuda, dan memaksa
si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu
tidak mengerti keadaan
yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.


Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib
"Yesus" akhirnya angkat
bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya
itu pun kemudian
pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang
akan berlayar pun
bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan
kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu
salib itu sambil
berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada
disana." Penjaga itu
berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan
menjernihkan persoalan
serta memberikan keadilan, apakah salahku?"


"Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu
sama sekali tidak
kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk
dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang
itu dapat memecahkan
masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling
kasihan adalah pemuda
itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si
pemuda sampai ia
ketinggalan ka pal, maka si pemuda itu mungkin tidak
akan kehilangan
nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya
sedang tenggelam di tengah
laut."


Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang
menggelikan, namun dibalik
itu terkandung sebuah rahasia kehidupan...


Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan
adalah yang paling baik,
namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu
terjadi karena kita
tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan
ini.


Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat
ini, baik itu
keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan
hasil pengaturan yang
terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru
bisa bersyukur dalam
keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.


Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja
dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan buat kita.
(Roma 8:28)


Tetap Semangat
Gbu

Baca Selengkapnya

16 August 2007
















Teman-teman, beberapa hari yang lalu aku dapat email dari Pdt. Sugianto. beliau sering mengirimkan email ke saya, yang isinya bersifat reflektip. Beberapa diantaranya sudah aku POSTINGkan di webblog ini tapi diantara yang lain tiak bisa karena termasuk "undownloadable"ini bagus buat refleksi. Simak yang kali ini.........

salam buat kalian semua di Jambi, Bengkulu, Palembang, Buay Madang, Blitang dan Lampung...

Baca Selengkapnya

09 August 2007

Apa Refleksi Anda?









Kami akan sangat senang jika kita bisa bertukar pikiran dan saling merefleksikan gambar-gambar di atas.... tuliskan dalam komentar, jangan lupa menuliskan nama. Terimakasih.

Baca Selengkapnya

24 July 2007

Tuhan Besertamu

JiKa KaMu MeRaSa LeLaH DaN TaK BeRdaYa
DaN uSaHa YanG SePeRtinYa Sia-Sia..

Tuhan tahu betapa keras engkau sudah
berusaha.


Ketika kau sudah menangis sekian lama
dan hatimu masih terasa pedih..

Tuhan sudah menghitung airmatamu.


Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang
menunggu sesuatu dan waktu serasa
berlalu begitu saja..

Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.


Ketika kau merasa sendirian dan teman-
temanmu terlalu sibuk untuk menelepon.

Tuhan selalu berada disampingmu.


Ketika kau pikir bahwa kau sudah
mencoba segalanya dan tidak tahu

hendak berbuat apa lagi..
Tuhan punya jawabannya.


Ketika segala sesuatu menjadi tidak
masuk akal dan kau merasa tertekan..

Tuhan dapat menenangkanmu.


Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-
jejak harapan..

Tuhan sedang berbisik kepadamu.


Ketika segala sesuatu berjalan lancar
dan kau merasa ingin mengucap syukur..

Tuhan telah memberkatimu.


Ketika sesuatu yang indah terjadi dan
kau dipenuhi ketakjuban..

Tuhan telah tersenyum padamu.


Ketika kau memiliki tujuan untuk
dipenuhi dan mimpi untuk digenapi..

Tuhan sudah membuka matamu dan
memanggilmu dengan namamu.


Ingat bahwa dimanapun kau atau
kemanapun kau menghadap... TUHAN TAHU


*Jc LoVe YoU*

Baca Selengkapnya